Jambi Daerah Paling Sebentar Dijajah Belanda
Sumber data diambil dari Museum Perjuangan Rakyat Jambi
(http://kajanglako.com/id-804-infografis-infografis-residen-jambi-masa-kolonial-belanda-19061942.html)
(http://kajanglako.com/id-804-infografis-infografis-residen-jambi-masa-kolonial-belanda-19061942.html)
Peperangan besar terakhir yang terjadi di
Jambi menjelang kemerdekaan terjadi pada 1925 yang dipimpin oleh Wahid.
Perang itu sering disebut sebagai Perang Raja Batu atau Perang Serikat
Abang.
Jambi (ANTARA News) - Peneliti Sejarah Jambi, Fachruddin Saudagar,
Selasa (28/6) menyatakan, wilayah Jambi merupakan salah satu daerah di
Nusantara yang paling sebentar dijajah Belanda.
Menurut dia, penelitian terkait keberadaan Belanda di Negeri Jambi telah dilakukan, dan berdasarkan bukti-bukti yang ada, ditarik kesimpulan bahwa Belanda menjajah Jambi termasuk paling singkat dari daerah lain di Nusantara.
"Analisa itu kami simpulkan setelah melakukan penelitian panjang atas perlawanan dan perjuangan rakyat Jambi yang dipimpin oleh Sultan Thaha Syaifuddin. Dan Didapat fakta bahwa negeri Jambi termasuk daerah yang paling singkat mengalami penjajahan Belanda," katanya.
Belanda Masuk ke Tanah Jambi dimulai dengan misi perdagangan yang dilakukan oleh VOC pada tahun 1615. VOC, terangnya, saat itu memohon kepada Sultan Abdul Kohar dari Kesultanan Jambi untuk mendirikan Loji di Muara Kumpeh.
"Dalam cerita rakyat setempat, Belanda pada waktu itu meminta izin untuk menanam labu di Jambi. Oleh sultan diizinkan, tapi Belanda kemudian tidak saja menanam labu di bidang yang telah disediakan, tapi malah menanam di lahan yang lain, sampai masuk ke dalam pekarangan dan perkebunan warga pribumi," sebut penulis buku
`Sultan Thaha Syaifuddin, Perang Tak Kenal Damai (1855-1904)' itu.
Namun, kelicikan Belanda itu mendapat perlawanan sengit dari rakyat Jambi, dan mengalami puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Thaha Syaifuddin yang naik tahta menggantikan ayah dan pamannya Sultan Fachruddin dan Sultan Abdurrahman Nazaruddin pada 1855.
"Selama 46 tahun Sultan Thaha Syaifuddin mengobarkan perlawanan kepada Belanda, meskipun pada saat itu beliau harus menyingkir dari keraton dan wilayah kekuasaaanya di Kota Jambi yang diduduki oleh penjajah. Ia menyingkir ke Muara Tembesi, dan Desa Betung Berdarah, di Kabupaten Tebo," lanjut Fachruddin.
Meskipun serangan Belanda ke Desa Betung Berdarah yang merupakan tempat pertahanan Sultan pada malam 27 April 1904 menyebabkan kematiannya, namun perlawanan rakyat yang dipimpin oleh panglima-panglima andalan Sultan terus berlanjut.
"Sepeninggal Sultan, perang masih terus dilanjutkan secara sporadis oleh Raden Mattahir, Depati Parbo, Haji Umar, Raden Pamuk, Raden Perang, dan Wahid serta lainnya yang merupakan prajurit-prajurit andalan Sultan," jelasnya.
"Peperangan besar terakhir yang terjadi di Jambi menjelang kemerdekaan terjadi pada 1925 yang dipimpin oleh Wahid. Perang itu sering disebut sebagai Perang Raja Batu atau Perang Serikat Abang," lanjut dia.
Setelah Perang Raja Batu atau Perang Sarikat Abang ini usai dan Rakyat Jambi mengalami kekalahan pada 1925, barulah seluruh daerah Jambi dapat dikuasai oleh Belanda.
"Oleh karena itu, daerah Jambi termasuk salah satu daerah yang paling sedikit mengalami penjajahan Belanda," jelas dosen Universitas Jambi itu.
Menurut dia, penelitian terkait keberadaan Belanda di Negeri Jambi telah dilakukan, dan berdasarkan bukti-bukti yang ada, ditarik kesimpulan bahwa Belanda menjajah Jambi termasuk paling singkat dari daerah lain di Nusantara.
"Analisa itu kami simpulkan setelah melakukan penelitian panjang atas perlawanan dan perjuangan rakyat Jambi yang dipimpin oleh Sultan Thaha Syaifuddin. Dan Didapat fakta bahwa negeri Jambi termasuk daerah yang paling singkat mengalami penjajahan Belanda," katanya.
Belanda Masuk ke Tanah Jambi dimulai dengan misi perdagangan yang dilakukan oleh VOC pada tahun 1615. VOC, terangnya, saat itu memohon kepada Sultan Abdul Kohar dari Kesultanan Jambi untuk mendirikan Loji di Muara Kumpeh.
"Dalam cerita rakyat setempat, Belanda pada waktu itu meminta izin untuk menanam labu di Jambi. Oleh sultan diizinkan, tapi Belanda kemudian tidak saja menanam labu di bidang yang telah disediakan, tapi malah menanam di lahan yang lain, sampai masuk ke dalam pekarangan dan perkebunan warga pribumi," sebut penulis buku
`Sultan Thaha Syaifuddin, Perang Tak Kenal Damai (1855-1904)' itu.
Namun, kelicikan Belanda itu mendapat perlawanan sengit dari rakyat Jambi, dan mengalami puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Thaha Syaifuddin yang naik tahta menggantikan ayah dan pamannya Sultan Fachruddin dan Sultan Abdurrahman Nazaruddin pada 1855.
"Selama 46 tahun Sultan Thaha Syaifuddin mengobarkan perlawanan kepada Belanda, meskipun pada saat itu beliau harus menyingkir dari keraton dan wilayah kekuasaaanya di Kota Jambi yang diduduki oleh penjajah. Ia menyingkir ke Muara Tembesi, dan Desa Betung Berdarah, di Kabupaten Tebo," lanjut Fachruddin.
Meskipun serangan Belanda ke Desa Betung Berdarah yang merupakan tempat pertahanan Sultan pada malam 27 April 1904 menyebabkan kematiannya, namun perlawanan rakyat yang dipimpin oleh panglima-panglima andalan Sultan terus berlanjut.
"Sepeninggal Sultan, perang masih terus dilanjutkan secara sporadis oleh Raden Mattahir, Depati Parbo, Haji Umar, Raden Pamuk, Raden Perang, dan Wahid serta lainnya yang merupakan prajurit-prajurit andalan Sultan," jelasnya.
"Peperangan besar terakhir yang terjadi di Jambi menjelang kemerdekaan terjadi pada 1925 yang dipimpin oleh Wahid. Perang itu sering disebut sebagai Perang Raja Batu atau Perang Serikat Abang," lanjut dia.
Setelah Perang Raja Batu atau Perang Sarikat Abang ini usai dan Rakyat Jambi mengalami kekalahan pada 1925, barulah seluruh daerah Jambi dapat dikuasai oleh Belanda.
"Oleh karena itu, daerah Jambi termasuk salah satu daerah yang paling sedikit mengalami penjajahan Belanda," jelas dosen Universitas Jambi itu.
(PSO - 290)
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2011
COPYRIGHT © ANTARA 2011
Sumber : https://www.antaranews.com/berita/265575/jambi-daerah-paling-sebentar-dijajah-belanda

























Selain memiliki kualitas rumput kelas satu, tempat duduk di semua tribun Pakansari juga sudah menggunakan sistem single seater
lengkap dengan penomorannya, seperti sebagian besar stadion-stadion di
daratan Eropa. Karena berada di sekitar perbukitan, Stadion Pakansari
juga tergolong sejuk. Aksesnya pun mudah, karena terletak tak jauh dari
pusat kota Bogor.
Selain itu, Maguwoharjo juga memiliki kapasitas yang tergolong besar
untuk ukuran stadion di Indonesia. Stadion yang menjadi markas klub 
Stadion berkapasitas 40.000 orang ini semula dibangun untuk
penyelanggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 di Sumatera Selatan.
Namun, setelah pemerintah Sumatera Selatan berhasil mengakusisi
Persijatim, salah satu klub di divisi teratas sepakbola Indonesia,
beberapa saat setelah PON 2004 berakhir, Stadion Gelora Sriwijaya
kemudian menjadi markas bagi Sriwijaya FC.
Stadion Mandala mempunyai kualitas lampu yang mengagumkan, sangat
cocok untuk menggelar pertandingan di malam hari. Kualitas rumputnya pun
tak kalah bagus jika dibandingkan dengan rumput di Stadion Utama Gelora
Bung Karno dan Stadion Gelora Sriwijaya. Selain itu, Stadion Mandala
juga memiliki ruang internet berkecepatan tinggi yang dapat digunakan
untuk kepentingan pers.
Dibangun dengan menghabiskan dana dengan jumlah yang tak sedikit,
sekitar Rp1,18 trilliun, Stadion Utama Riau pernah masuk nominasi
sebagai salah satu stadion terbaik di dunia pada tahun 2012 lalu versi
portal stadiumdb.com. Stadion yang mempunyai arsitektur mirip Allinaz Arena, markas
Di Liga 1, stadion berkapasitas 35.000 tempat duduk ini menjadi markas


